DuaPena menemani menyusun kerangka, menjaga benang cerita, dan merapikan naskah — tetapi kalimat terakhir selalu keputusan penulisnya.
Mulai menulis
oleh Aryatama Anshari
Ratri, enam belas tahun, tinggal berdua dengan ayahnya yang membuka jasa jahit di los pasar. Ibunya merantau ke Malaysia tiga tahun lalu — mengirim uang tiap bulan, menelepon jarang. Ratri menyimpan semua struk kiriman itu di kaleng biskuit dan yakin ibunya akan pulang. Sepanjang cerita ia belajar menjahit; mula-mula karena tidak ada orang lain yang membantu ayahnya, lama-lama karena itu jadi miliknya sendiri. Yang tidak ia sadari: ia berhenti menghitung hari, dan mulai membuat sesuatu.

oleh Aryatama Anshari
Dua belas tahun lalu Darmaji pergi. Ningsih mulai berkata "bapakmu sudah tidak ada" — kalimat yang secara harfiah benar dan sengaja bermakna dua. Anak-anaknya membiarkannya berarti meninggal di depan orang, dan pergi di dalam rumah, dan tidak sekali pun bertanya yang mana. Rara tahu sejak umur sembilan belas dan diam demi kakaknya. Bayu tahu sejak umur dua puluh lima dan diam demi adiknya. Masing-masing mengira dialah satu-satunya yang memikul. Lalu sebuah rumah sakit di Semarang menelepon: Darmaji sekarat, dan nama Ningsih tercatat sebagai keluarga terdekat. Untuk memutuskan pergi atau tidak, seseorang harus akhirnya mengucapkan kalimat itu dengan lengkap.

oleh Aryatama Anshari
Ayah meninggal, meninggalkan rumah tua di Bandung dan utang koperasi tiga ratus empat puluh juta rupiah atas nama ketiga anaknya. Ratih, anak sulung dan satu-satunya yang masih tinggal di kota itu, harus memutuskan: menjual rumah, atau menanggung cicilannya sendiri. Kedua adiknya sudah setuju menjual, lewat pesan singkat, dari Jakarta dan Surabaya. Yang tidak mereka ketahui: ibu mereka masih tinggal di rumah itu dan menolak pergi, dan ayah tidak pernah sekali pun menceritakan untuk apa utang sebesar itu dipakai.