DuaPena menemani menyusun kerangka, menjaga benang cerita, dan merapikan naskah — tetapi kalimat terakhir selalu keputusan penulisnya.
Mulai menulis
oleh Aryatama Anshari
Dua belas tahun lalu Darmaji pergi. Ningsih mulai berkata "bapakmu sudah tidak ada" — kalimat yang secara harfiah benar dan sengaja bermakna dua. Anak-anaknya membiarkannya berarti meninggal di depan orang, dan pergi di dalam rumah, dan tidak sekali pun bertanya yang mana. Rara tahu sejak umur sembilan belas dan diam demi kakaknya. Bayu tahu sejak umur dua puluh lima dan diam demi adiknya. Masing-masing mengira dialah satu-satunya yang memikul. Lalu sebuah rumah sakit di Semarang menelepon: Darmaji sekarat, dan nama Ningsih tercatat sebagai keluarga terdekat. Untuk memutuskan pergi atau tidak, seseorang harus akhirnya mengucapkan kalimat itu dengan lengkap.

oleh Aryatama Anshari
Handoko Wibisono, penulis skenario sinetron religi fenomenal Assalamualaikum Cinta yang termasyhur berkat dialog sakti 'Suara Tuhan'-nya, tiba-tiba mengamuk di lokasi syuting dan berteriak 'Tuhan itu karangan gue!' tepat saat adegan itu disiarkan langsung—videonya viral dalam semalam. Rumah produksi mengultimatum: ia wajib menjalani terapi psikologis 30 hari dengan dr. Wening Prameswari, seorang psikolog nyentrik yang justru gemar membedah naskah-naskah lamanya untuk membongkar dari mana sebenarnya 'suara Tuhan' itu berasal—ingatan masa kecil, ayahnya yang pendeta gadungan, atau delusinya sendiri. Bila dalam 30 hari ia gagal menuntaskan terapi sekaligus menulis ulang season 5 demi kontrak dua miliar rupiah, ia bukan cuma kehilangan karier: mantan istrinya sudah menyiapkan berkas hak asuh penuh atas anak semata wayang mereka, dengan bukti rekaman ledakan itu sebagai amunisi utama. Di antara sesi terapi yang berubah jadi debat teologis konyol dan tenggat naskah yang menuntut ia terus berpura-pura tahu jawaban Tuhan, Handoko harus memutuskan: berhenti berbohong pada penonton, atau berhenti berbohong pada dirinya sendiri.